Selasa, 10 Januari 2017

Critical Eleven



Judul: Critical Eleven
Pengarang: Ika Natassa
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Terbit: Agustus 2015
Tebal: 344 halaman
Ukuran: 13.5 x 20 cm


Sinopsis
Dalam dunia penerbangan dikenal dengan istilah critical eleven, sebelas menit paling kritis didalam pesawat-tiga menit setelah take off dan delapan sebelum landing-karena secara statistik delapan puluh persen kecelakaan pesawat umumnya terjadi dalam rentang waktu sebelas menit itu. It’s when the aircraft is most vulnerable to any danger.

In a way, it’s kinda the same with meeting people. Tiga menit pertama kritis sifatnya karena saat itulah kesan pertama terbentuk, lalu ada delapan menit sebelum berpisah-delapan menit ketika senyum, tindak tanduk, dan ekspresi wajah orang tersebut jelas bercerita apakah itu akan jadi awal sesuatu ataukah justru menjadi perpisahan.

Ale dan Anya pertama kali bertemu dalam penerbangan Jakarta-Sadney. Tiga menit pertama Anya terpikat, tujuh jam berikutnya mereka duduk bersebelahan dan saling mengenal lewat percakapan serta tawa, dan delapan menit sebelum berpisah Ale menginginkan Anya.

Kini, lima tahun setelah perkenalan itu. Ale dan Anya dihadapkan pada satu tragedi besar yang membuat mereka mempertanyakan pilihan-pilihan yang mereka ambil, termasuk keputusan pada sebelas menit paling penting dalam pertemuan pertama mereka.

Diceritakan bergantian dari sudut pandang Ale dan Anya, setiap babnya merupakan kepingan puzzle yang membuat kita jatug cinta atau benci kepada karakter-karakternya, atau justru keduanya.

Resensi
Critical eleven adalah novel pertama Ika Natassa yang saya baca. Di novel ini beberapa pesan moral kehidupan yang bisa di jadikan pelajaran dikehidupan. Saya termasuk orang yang lama dalam membaca buku, tapi karena isi novel Critical Eleven ini dengan bahasa yang mudah dan cepat dipahami. Saya tau buku ini dari teman saya, dan sebelumnya saya tidak ada niat untuk baca, tapi setelah baca untuk beberapa halaman, saya mulai tertarik dengan cerita awalnya, dan kata-kata di novel Critical Eleven ini yang menjadi favorit saya adalah “Tiga menit pertama kritis sifatnya karena saat itulah kesan pertama terbentuk, lalu ada delapan menit sebelum berpisah-delapan menit ketika senyum, tindak tanduk, dan ekspresi wajah orang tersebut jelas bercerita apakah itu akan jadi awal sesuatu ataukah justru menjadi perpisahan. dan “berani menjalin hubungan berarti berani menyerahkan sebagian kendali atas perasaan kita kepada orang lain.”

Novel Critical Eleven ini menceritakan tentang pertemuan antara Aldebaran Risjad dengan panggilan Ale dan Tanya Baskoro dengan panggilan Anya. Pertemuan mereka pertama kali di dalam pesawat dalam perjalanan ke Australia. Meskipun diceritakan pertemuan mereka cukup singkat, tapi menurut saya merasa mereka sudah mendapatkan feel kedekatan akan sebagai sepasang kekasih.

Dalam novel ini kita bisa mengambil beberapa pelajaran kehidupan, yaitu:
1.      Berhati-hati ketika berbicara dengan orang, terutama dengan orang yang sayangi, karena dengan menjaga persaan mereka melalui kata-kata, itu sudah menunjukan rasa sayang kita kepada orang yang kita sayangi.
2.      Menyelesaikan masalah. Nah dalam novel ini bisa kita ambil pelajaran bahwasannya dalam menyelesaikan masalah haruslah dengan kepala dingin. Jangan memutuskan sesuatu disaat keadaan emosi, tapi bicarakan baik-baik agar menemukan solusinya.

Oiyah, denger-denger novel Critical Eleven mau dijadiin film, saya berharap semoga ketika sudah di jadikan film, lebih bisa menyampaikan pesan kehidupan seperti isi novelnya, dan karena novel ini bersifat dewasa semoga bisa bijak dalam adegannya. 

0 komentar:

Posting Komentar